Samarinda — SMP Muhammadiyah 5 Samarinda kembali melaksanakan kajian ramadhan pada Senin, 2 Maret 2026 yang bertempat di ruang guru SMP Muhammadiyah 5 Samarinda. Pada pertemuan kedua kajian ramadhan ini, materi masih disampaikan oleh Ustadz M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., Direktur Pondok Pesantren Paciran. Kajian ini dihadiri oleh para guru dan staff dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Dalam pertemuan kali ini, Ustadz Rifqi terlebih dahulu mengulas kembali materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Pengulangan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman serta mengingatkan kembali pentingnya tekad, kebersamaan, dan ruh spiritual dalam setiap aktivitas, khususnya dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai yang baik, menurut beliau, perlu terus diingat dan direnungkan agar benar-benar tertanam dalam diri.
Memasuki materi baru, Ustadz Rifqi menekankan peran strategis guru sebagai pelaku pendidikan. Beliau menyampaikan bahwa seorang guru tidak boleh merendahkan siswanya dalam kondisi apa pun. Pendidikan bukanlah ruang untuk membandingkan atau melemahkan mental peserta didik, melainkan ruang untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang telah Allah SWT titipkan pada setiap anak. Setiap anak memiliki kemampuan, bakat, dan keunikan yang berbeda. Tugas guru adalah menemukan potensi tersebut, mengasahnya, serta membimbingnya agar berkembang secara optimal. Seorang pendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan semangat belajar dalam diri siswa.


Dalam penjelasannya, Ustadz Rifqi juga mengangkat kisah tentang bagaimana Allah SWT memberikan kewajiban kepada manusia. Beliau menegaskan bahwa ketika Allah SWT menetapkan kewajiban, yang menjadi ukuran bukanlah kemampuan Allah SWT, melainkan kemampuan manusia. Artinya, setiap beban yang diberikan telah disesuaikan dengan kapasitas hamba-Nya.
Dari pemahaman tersebut, beliau menarik pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Ketika seorang guru memberikan tugas atau kewajiban kepada siswa, maka tugas itu harus disesuaikan dengan kemampuan siswa, bukan berdasarkan standar kemampuan gurunya. Jika ukuran yang digunakan adalah kemampuan guru tanpa mempertimbangkan kondisi peserta didik, maka hal itu dapat menjadi beban yang tidak proporsional.
Pesan ini juga relevan bagi para orang tua. Dalam mendidik anak, orang tua tidak boleh membandingkan kemampuan anaknya dengan anak lain. Setiap anak memiliki potensi dan proses perkembangan yang berbeda. Penilaian harus didasarkan pada kemampuan dan potensi anak itu sendiri, bukan pada pencapaian orang lain. Perbandingan yang tidak bijak hanya akan menghambat perkembangan dan menurunkan kepercayaan diri anak.

Selain membahas pengembangan potensi, Ustadz Rifqi juga menekankan pentingnya menetapkan target dalam setiap upaya. Untuk menaklukkan sesuatu, harus ada tujuan yang jelas. Dalam dunia pendidikan, sering kali visi besar telah dirumuskan, namun tidak disertai dengan struktur dan tahapan yang sistematis untuk mencapainya. Beliau mengingatkan bahwa visi tanpa langkah konkret hanya akan menjadi slogan. Target yang ditentukan harus realistis, terukur, dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan perencanaan yang matang dan tahapan yang jelas, tujuan besar akan lebih mudah dicapai secara bertahap dan berkelanjutan.
Pertemuan kedua Kajian Ramadhan ini menjadi momen refleksi mendalam bagi seluruh guru SMP Muhammadiyah 5 Samarinda. Para pendidik diajak untuk kembali meluruskan niat, memperbaiki metode, serta memperkuat empati dalam mendidik. Dengan semangat kebersamaan dan kesadaran akan amanah yang diemban, diharapkan pendidikan yang dijalankan mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan berkembang sesuai potensi terbaiknya.

