Samarinda — SMP Muhammadiyah 5 Samarinda kembali melaksanakan pertemuan ketiga Kajian Ramadhan pada Selasa, 3 Maret 2026 dengan pemateri yang sama, Ustadz M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., Direktur Pondok Pesantren Modern Paciran. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang guru SMP Muhammadiyah 5 Samarinda dan diikuti oleh kepala sekolah, guru, staf, serta pengasuh dengan penuh antusiasme. Pada pertemuan ketiga ini, Ustadz Rifqi menitikberatkan materi pada peran profetik seorang guru, yakni peran yang meneladani tugas-tugas kenabian dalam mendidik generasi. Guru, menurut beliau, bukan sekadar pengajar, melainkan pelanjut misi para nabi dalam membina umat.
Beliau mengawali dengan menekankan pentingnya rasa khawatir terhadap kondisi generasi penerus. Kekhawatiran yang dimaksud bukan dalam arti pesimis, melainkan kepedulian yang melahirkan tanggung jawab. Ustadz Rifqi mengutip kandungan Surah Al-Baqarah ayat 129, yang menggambarkan doa Nabi Ibrahim agar diutus seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah, serta menyucikan manusia. Dari ayat tersebut, dapat diidentifikasi tugas kenabian yang juga menjadi tugas guru, yaitu: membacakan Al-Qur’an, mengajarkan dan memahamkan kitab, membersihkan jiwa, serta mengajarkan dengan hikmah. Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa kemarahan dalam mendidik sering kali muncul, namun jangan sampai seorang guru hanya marah tanpa pernah mendoakan. Doa memiliki peran besar dalam perubahan. Ketika merasa khawatir terhadap generasi yang dididik, maka doa harus menjadi senjata utama. Pendidikan bukan hanya kerja fisik dan intelektual, tetapi juga kerja spiritual.


Terkait kedisiplinan, beliau menyampaikan bahwa hukuman fisik hanyalah alternatif terakhir, sebagaimana konsep hukuman dalam ajaran agama yang bersifat peringatan. Pendekatan utama tetaplah pembinaan, nasihat, dan keteladanan. Ustadz Rifqi juga menegaskan bahwa pendidikan adalah sebuah proses panjang. Hasil pendidikan tidak selalu terlihat saat ini, tetapi bisa jadi baru tampak dua puluh tahun kemudian. Bahkan ketika seorang siswa harus keluar dari sekolah, hal itu tetap bagian dari proses pendidikan. Dari situ ada muhasabah, ada pembelajaran, ada pendewasaan. Dan meskipun dikeluarkan, mereka tetaplah alumni, karena pernah menjadi bagian dari proses tersebut.
Dalam menjalankan peran profetik, guru perlu mengenali karakter setiap santri atau siswa. Tanpa memahami karakter, bisa jadi metode yang digunakan justru tidak tepat sasaran. Beliau mencontohkan karakter orang Yaman yang dikenal lemah lembut, sehingga pendekatan dakwah di sana pun memanfaatkan karakter tersebut. Dakwah yang efektif lahir dari pemahaman terhadap karakter internal. Apabila karakter sudah dikenali, maka pendekatan pendidikan akan lebih tepat. Visi profetik seorang guru, menurut beliau, mencakup penguatan akidah, pembiasaan dalam kebaikan, serta pengembangan akhlakul karimah. Sementara misi profetiknya adalah menyampaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, mengajak peserta didik untuk berpikir terhadap ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta), sehingga lahir generasi yang beriman dan berpikir.
Dalam sesi selanjutnya, Ustadz Rifqi menjelaskan dua terminologi penting terkait membaca. Pertama adalah qira’ah (qoroah), yaitu membaca dengan kualitas, membaca untuk mengumpulkan ilmu dan memahami makna sehingga yang membaca memperoleh pengetahuan dari bacaannya. Kedua adalah tilawah, yang menekankan pada intensitas dan pengulangan. Tilawah berkaitan dengan pembinaan berulang kali, sebagaimana konsep watawasaw bil haq, saling menasihati dalam kebenaran. Pengulangan tidak boleh membuat bosan, karena dalam setiap pengulangan terdapat penekanan dan manfaat yang berbeda. Beliau mengingatkan agar tidak lelah mengingatkan, meskipun nasihat belum tentu langsung diterima. Peringatan yang paling baik adalah dengan Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat petunjuk, peringatan, dan cahaya bagi kehidupan.
Pertemuan ketiga Kajian Ramadhan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas guru sebagai pelanjut misi kenabian. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membina jiwa, memahami karakter, menanamkan akidah, serta membangun akhlak. Dengan peran profetik tersebut, diharapkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 5 Samarinda semakin kokoh dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berkarakter kuat.

