Samarinda — SMP Muhammadiyah 5 Samarinda kembali melaksanakan pertemuan keempat Kajian Ramadhan pada Rabu, 4 Maret 2026, bertempat di ruang guru SMP Muhammadiyah 5 Samarinda. Kegiatan ini masih menghadirkan pemateri yang sama, yaitu Ustadz M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., Direktur Pondok Pesantren Modern Paciran. Kajian ini diikuti oleh kepala sekolah, para guru, staf, serta pengasuh dengan suasana yang penuh kekhidmatan dan semangat refleksi. Pada pertemuan keempat ini, Ustadz Rifqi kembali menegaskan tentang tiga peran profetik guru yang selaras dengan visi kenabian dalam pendidikan Islam. Beliau menekankan bahwa guru di lingkungan pendidikan Islam, khususnya di SMP Muhammadiyah 5 Samarinda, bukan sekadar penyampai materi, tetapi pelanjut misi para nabi dalam membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlak.
Peran pertama adalah penguatan aqidah sebagai pondasi utama pendidikan Islam. Ustadz Rifqi menjelaskan bahwa ketika seorang guru mengajarkan tauhid dan aqidah, sejatinya yang sedang dibangun adalah kepercayaan diri peserta didik. Aqidah yang kuat akan melahirkan pribadi yang yakin terhadap Tuhannya, yakin terhadap dirinya, serta yakin terhadap nilai-nilai kebenaran. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa membangun kepercayaan diri tidak boleh menjadikannya over confidence, karena sikap tersebut dapat melahirkan kesombongan. Aqidah yang benar justru melahirkan keseimbangan antara percaya diri dan rendah hati. Selain itu, penguatan aqidah juga berarti menjaga kepercayaan orang lain terhadap dirinya dan dirinya terhadap orang lain. Lingkungan pendidikan yang berlandaskan aqidah akan menjadikan setiap individu merasa aman dalam berinteraksi. Keamanan psikologis dan spiritual ini menjadi fondasi penting dalam membangun suasana belajar yang sehat dan penuh keberkahan.
Peran kedua adalah mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber ilmu dan hukum kehidupan seorang muslim. Ustadz Rifqi menegaskan bahwa setiap pembelajaran, apa pun mata pelajarannya, harus dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini bukan untuk membatasi ilmu, tetapi justru untuk memperkuat aqidah dan membangun cara pandang Islami dalam memahami kehidupan. Beliau juga menyampaikan bahwa kemajuan teknologi tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Justru, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi sarana untuk semakin mengenal kebesaran Allah. Tugas guru adalah memberikan pemahaman kepada siswa bahwa Islam tidak anti terhadap kemajuan, selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai syariat. Dengan demikian, peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi yang religius sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.


Peran ketiga adalah tazkiyah atau proses pembersihan jiwa. Dalam penjelasannya, Ustadz Rifqi menguraikan bahwa tazkiyah mencakup beberapa aspek. Pertama, tanmiyah, yaitu perkembangan fisik yang sehat dan optimal. Kedua, tarkiyah, yaitu perkembangan karakter dan akhlak yang baik. Ketiga, tatwir, yaitu kemajuan dan peningkatan kualitas diri secara menyeluruh. Artinya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi fisik, karakter, dan kemajuan peradaban. Guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing siswa agar berkembang secara utuh—sehat jasmani, kuat iman, mulia akhlaknya, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Melalui pertemuan keempat Kajian Ramadhan ini, para guru kembali diingatkan tentang identitas dan tanggung jawab besar sebagai pendidik. Tiga peran profetik yang disampaikan menjadi arah dan pijakan dalam menjalankan tugas pendidikan sehari-hari. Dengan penguatan aqidah, pengajaran berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta proses tazkiyah yang berkelanjutan, diharapkan SMP Muhammadiyah 5 Samarinda mampu terus melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

